Kamis, 04 November 2010

Makalah Gangguan Kepribadian


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Penulisan
Gangguan kepribadian menurut Rusdi Malim (1998) yang merujuk pada PPGDJ-III (Pedoman Penggolongan diagnose Gangguan Jiwa III) adalah paranoid, schizoid, emosional tak stabil tipe implusif dan ambang, historic, anankastik, cemas (menghindar), dependen, khas lainnya yang tidak tergolongkan.
Gangguan Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi.
Sedangkan gangguan kepribadian menurut Kaplan dan Saddock adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subyektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.
Jadi, pembuatan makalah ini bermaksud agar kita lebih paham dan mengerti apa itu gangguan kepribadian serta sebagai salah satu tugas dari mata kuliah keperawatan jiwa.

B.     Tujuan Penulisan
1.    Tujuan   Umum
Untuk  memperoleh gambaran yang nyata tentang apa itu gangguan kepribadian.
2.    Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui apa itu pengertian dari gangguan kepribadian
b.      Mengetahui factor penyebab timbulnya gangguan kepribadian
c.       Mengetahui gejala umum gangguan kepribadian
d.      Mengetahui Klasifikasi dan Diskripsi Gangguan Kepribadian
e.       Mengetahui Resiko Gangguan Kepribadian
f.       Treatment bagi Gangguan Kepribadian


C.     Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan penulis yaitu sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Dalam BAB ini berisikan latar belakang, tujuan penulisan dan sistematika penulisan
BAB II TINJAUN TEORI     
Dalam BAB ini berisikan Untuk mengetahui apa itu pengertian dari gangguan kepribadian, Mengetahui factor penyebab timbulnya gangguan kepribadian, Mengetahui gejala umum gangguan kepribadian, Mengetahui Klasifikasi dan Diskripsi Gangguan Kepribadian, Mengetahui Resiko Gangguan Kepribadian, Treatment bagi Gangguan Kepribadian.
BAB III PENUTUP
Dalam BAB ini berisikan kesimpulan





















BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Pengertian Gangguan Kepribadian
Kaplan dan Saddock mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya, kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan.
Sedangkan menurut Koswara (1991) dalam pengertian sehari-hari kepribadian adalah bagaimana individu menampilkan dan menimbulkan kesan bagi individu lain.
Menurut Maramis (1999) kepribadian adalah keseluruhan pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus menerus terhadap hidupnya.
Gangguan kepribadian menurut Rusdi Malim (1998) yang merujuk pada PPGDJ-III (Pedoman Penggolongan diagnose Gangguan Jiwa III) adalah paranoid, schizoid, emosional tak stabil tipe implusif dan ambang, historic, anankastik, cemas (menghindar), dependen, khas lainnya yang tidak tergolongkan.
Gangguan Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi.
Sedangkan gangguan kepribadian menurut Kaplan dan Saddock adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subyektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.
Orang yang mengalami kepribadian biasanya memiliki tingkah laku yang kompleks dan berbeda-beda berupa :
·         Ketergantungan yang berlebihan
·         Ketakutan yang berlebihan dan intimitas
·         Kesedihan yang mendalam
·         Tingkah laku yang eksploitatif
·         Kemarahan yang tidak dapat dikontrol
·         Kalau masalah mereka tidak ditangani, kehidupan mereka akan dipenuhi ketidakpuasan

Gangguan kepribadian merupakan suatu gangguan berat pada karakter dan kecenderungan perilaku pada individu.
 Gangguan tersebut melibatkan beberapa bidang kepribadian dan berhubungan dengan kekacauan pribadi dan sosial. Gangguan itu dapat disebabkan oleh faktor hereditas dan pengalaman hidup pada awal masa kanak-kanak.
Diagnosa terjadinya gangguan kepribadian pada seseorang yang di dasarkan pada bentuk perilaku, mood, sosial interaksi, impulsif, dapat menjadi suatu hal yang kontroversial dan merugikan individu bersangkutan, kebanyakan orang awam memberikan sebutan label atau pelbagai stigma tertentu pada mereka. Akibatnya, individu tersebut semakin enggan untuk berobat dan melakukan isolasi diri.
Kemunculan gangguan kepribadian berawal kemunculan distres, yang dilanjutkan pada penekanan perasaan-perasaan tersebut dan berperilaku tertentu seperti orang mengalami distres pada umumnya.
Rendahnya fungsi interaksi sosial di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja ikut memperburuk kondisi dan suasana emosi dengan cara mendramatisir, menyimpan erat, mengulang atau mengingat kembali suasana hati (obsesif), dan antisosial.
Beberapa perilaku tersebut menganggu individu dan aktivitas sehari-harinya, secara umum individu yang mengalami gangguan kepribadian kesulitan untuk mempertahankan atau menlanjuti hubungan dengan orang lain.
Hal ini disebabkan oleh permasalahan interpersonal yang kronis, atau kesulitan dalam mengenal perasaan-perasaan (emosi) sendiri yang muncul dalam dirinya.
 Penderita gangguan kepribadian mempunyai karakteristik perilaku yang kaku sulit menyesuaikan diri sehingga orang lain seperti bersikap impulsif, lekas marah, banyak permintaan, ketakutan, permusuhan, manipulatif, atau bahkan bertindak kasar.
Problem ketergantungan pada alkohol, gangguan mood, kecemasan dan gangguan makan, melakukan hal-hal yang berbahaya terhadap diri sendiri, keinginan bunuh diri, gangguan seksual sering menjadi bagian dari permasalahan gangguan kepribadian.






B.     Faktor Penyebab Munculnya Gangguan Kepribadian
1.      Faktor Genetika
 satu buktinya berasal dari penelitian gangguan psikiatrik pada 15.000 pasangan kembar di Amerika Serikat. Diantara kembar monozigotik, angka kesesuaian untuk gangguan kepribadian adalah beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kembar dizigotik. Selain itu menurut suatu penelitian, tentang penilaian multiple kepribadian dan temperamen, minat okupasional dan waktu luang, dan sikap social, kembar monozigotikyang dibesarkan terpisah adalah kira-kira sama dengan kembar monozigotik yang dibesarkan bersama-sama.
2.      Faktor Temperamental
Faktor temperamental yang diidentifikasi pada masa anak-anak mungkin berhubungan dengan gangguan kepribadian pada masa dewasa. Contohnya, anak-anak yang secara temperamental ketakutan mungkin mengalami kepribadian menghindar.
3.      Faktor Biologis
·         Hormon
Orang yang menunjukkan sifat impulsive seringkali juga menunukkan peningkatan kadar testosterone, 17-estradiol dan estrone.
·         Neurotransmitter
Penilaian sifat kepribadian dan system dopaminergik dan serotonergik, menyatakaan suatu fungsi mengaktivasi kesadaran dari neurotransmitter tersebut. Meningkatkan kadaar serotonin dengan obat seretonergik tertentu seperti fluoxetine dapat menghasilkan perubahan dramatik pada beberapa karakteristik kepribadian. Serotonin menurunkan depresi, impulsivitas.
·         Elektrofisiologi
 Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram telah ditemukaan pada beberaapa pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering pada tipe antisocial dan ambang, dimana ditemukan aktivitas gelombang lambat.
4.      Faktor Psikoanalitik
Sigmund Freud menyatakan bahwa sifat kepribadian berhubungan dengan fiksasi pada salah satu stadium perkembangan psikoseksual. Fiksasi pada stadium anal, yaitu anakyang berlebihan atau kurang pada pemuasan anal dapat menimbulkan sifat keras kepala, kikir dan sangat teliti.

C.    Gejala Umum Gangguan Kepribadian
Individu dengan gangguan kepribadian sarat dengan pelbagai pengalaman konflik dan ketidakstabilan dalam beberapa aspek dalam kehidupan mereka. Gejala secara umum gangguan kepribadian berdasarkan kriteria dalam setiap kategori yang ada. Secara umum gangguan ini klasifikasikan berdasarkan :
1.      Pengalaman dan perilaku individu yang menyimpang dari social expectation. Penyimpangan pola tersebut pada satu atau lebih:
·         cara berpikir (kognisi) termasuk perubahan persepsi dan interpretasi terhadap dirinya, orang lain dan waktu
·         afeksi (respon emosional terhadap terhadap diri sendiri, labil, intensitas dan cakupan)
·         fungsi-fungsi interpersonal
·         dan kontrol terhadap impuls
2.      Gangguan-gangguan tersebut bersifat menetap dalam diri pribadi individu dan berpengaruh pada situasi sosial.
3.      Gangguan kepribadian yang terbentuk berhubungan erat dengan pembentukan distress atau memburuknya hubungan sosial, permasalahan kerja atau fungsi-fungsi sosial penting lainnya.
4.      Pola gangguan bersifat stabil dengan durasi lama dan gangguan tersebut dapat muncul dan memuncak menjelang memasuki dewasa dan tidak terbatas pada episode penyakit jiwa
5.      Gangguan pola kepribadian tidak disebabkan oleh efek-efek psikologis yang muncul yang disebabkan oleh kondisi medis seperti luka di kepala.
Catatan:
Gangguan kepribadian tidak didiagnosa pada pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, dengan pertimbangan bahwa pada usia dibawah 18 tahun sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada remaja awal, bila pun adanya simtom-simtom tertentu yang tampak, haruslah simtom tersebut menetap setidaknya 1 tahun lamanya, namun tidak semua gejala yang ada dapat didiagnosa sebagai bentuk gangguan kepribadian.



D.    Klasifikasi dan Diskripsi Gangguan Kepribadian
Menurut DSM-IV, gangguan kepribadian dikelompokkan menjadi :
1.      Kelompok A
Penderita ketiga jenis gangguan ini berperilaku eksentrik, ditambah beberapa kekhususan. Orang dengan gangguan seperti ini seringkali tampak aneh dan eksentrik. Jenis ini adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh berpikir atau berperilaku aneh dan eksentrik yang mencakup:
Ø  Gangguan kepribadian paranoid
Ø  Ketidakpercayaan dan kecurigaan orang lain
Ø  Percaya bahwa orang lain berusaha untuk menyakiti
Ø  Emosional
Ø  Mengembangkan sikap permusuhan
Kelompok A ini terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, schizoid, dan skizotipal.
a.      Gangguan Kepribadian Paranoid
Bentuk gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang berlebihan atau menonjol. Orang dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai dengan :
·         Kecurigaan yang bersifat pervasive bahwa dirinya sedang dicelakai, dikhianati
·         Keraguan yang tidak berdasar terhadap kesetiaan teman-teman
·         Enggan mempercayai orang lain
·         Memberikan makna tersendiri terhadap berbagai tindakan orang lain yang tidak mengandung maksud apapun
·         Mendendam atas berbagai hal yang dianggap sebagai kesalahan
·         Reaksi berupa kemarahan terhadap apa yang dianggapnya sebagai serangan terhadap karakter atau reputasi
·         Hipersensitif atau sangat perasa
·         rigid atau kaku
·         mudah iri dan sangat egois
·         argumentatif atau suka menentang
·         suka menyalahkan orang lain dan suka menuduh orang lain jahat.
Menurut teori psikodinamika, gangguan ini merupakan mekanisme pertahanan ego proyeksi, orang tersebut melihat orang lain mempunyai motif merusak dan negative.
Ada kecenderungan untuk membanggakan dirinya sendiri karena menganggap dirinya mampu berpikir secara rasional dan obyektif, padahal sebenarnya tidak.
Menurut teori kognitif behavioral, orang dengan gangguan ini akan selalu dalam keadaaan waspada, karena tidak mampu membedakan antara orang yang membahayakan dan yang tidak.
b.      Gangguan Kepribadian Skizoid
Gangguan kepribadian dengan sifat pemalu, suka menyendiri, perasa, pendiam, dan menghindari hubungan jangka panjang dengan orang lain. Orang dengan gangguan kepribadian schizoid ditandai dengan :
·         Kurang berminat ataau kurang menyukai hubungan dekat
·         Hampir secara eksklusif lebih menyukai kesendirian
·         Kurangnya minat untuk berhubungan seksual
·         Kurang memiliki teman
·         Bersikap masa bodoh terhadap pujian atau kritik dari orang lain
·         Afek datar atau acuh/ tak peduli, emosi dingin
·         Tidak terampil bergaul dan suka menyendiri.
·         Preokupasi (berulang-ulang memikirkan isi pikiran) dengan fantasi dan intropeksi yang berlebihan
c.       Gangguan Kepribadian Skizotipe
Orang dengan gangguan skizotipal ditandai dengan :
·         Ideas of Reference (keyakinan bahwa berbagai kejadian memiliki makna yang khusus dan tidak biasa bagi orang yang bersangkutan)
·         Keyakinan yang aneh atau pemikiran magis
·         Persepsi yang tidak biasa
·         Dihantui oleh pikiran-pikiran autistik, yaitu pikiran-pikiran, dan takhayul-takhayul
·         Pola bicara yang aneh
·         Kecurigaan yang ekstrem
·         Afek yang tidak sesuai
·         Perilaku atau penampilan yang aneh
·         Kurang memiliki teman akrab
·         Rasa tidak nyaman yang ekstrem

2.      Kelompok B
Jenis ini adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan terlalu emosional berpikir atau berperilaku yang mencakup:
Ø  Antisosial (sebelumnya, sosiopat)
Ø  Mengabaikan orang lain
Ø  Terus-menerus berbohong atau mencuri
Ø  Berulangkali bermasalah dengan hokum
Ø  Berulang kali melanggar hak orang lain
Ø  Agresif, sering berperilaku keras
Ø  Mengabaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain
Terdiri dari gangguan kepribadiaan antisosial, ambang, histrionic dan narsistik. Orang dengan gangguan ini sering tampak dramatic, emosional, dan tidak menentu.
a.      Gangguan Kepribadian Antisosial
Orang dengan gangguan kepribadian antisocial ditandai :
·         Berulang kali melanggar hokum dan hak orang lain lewat perilaku agresif
·         Menipu, berbohong
·         Impulsivitas
·         Mudah tersinggung dan agresif
·         Tidak memperdulikaan keselamatan diri sendiri daan orang lain
·         Tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaan
·         Kurang memiliki rasa penyesaalaan
·         Tidak sedikit diantara penderita cukup cerdas dan pandai menampilkna diri secara meyakinkan untuk menjadi penipu ulung.
b.      Gangguan Kepribadian Histrionik
Orang dengan gangguan kepribadian histrionik ditandai :
·         Kebutuhan besar untuk menjadi pusat perhatian
·         Perilaku tidak senonoh, secara seksual yang tidak pantas
·         Perubahan ekspresi emosi secara cepat
·         Memanfaatkan penampilan fisik untuk menarik perhatian orang lain pada dirinya
·         Bicaranya sangat tidak tepat
·         Ekspresi emosional yang berlebihan
·         Sangat mudah sugesti
·         Menyalahartikan hubungan sebagai lebih intim dari yang sebenarnya
·         Emosinya labil; haus akan hal-hal yang serba menggairahkan (excitement)
·         Senang mendramatisasi diri secara berlebihan untuk mencari perhatian
·         Tergantung, tak berdaya, dan mudah ditipu
·         Egois, congkak, sangat haus akan pengukuhan orang lain
·         Sangat reaktif; dangkal atau picik, dan tudal tulus.
c.       Gangguan Kepribadian Ambang/ Bordeline
Orang dengan gangguan kepribadian ambang ditandai :
·         Berupaya keras untuk mencegah agar tidak diabaikan
·         Ketidakstabilan dan intensitas ekstrem dalam hubungan interpersonal
·         Rasa diri (sense of self) yang tidak stabil
·         Perilaku impulsive, termasuk sangat boros, perilaku seksual yang tidak pantas
·         Perilaku bunuh diri dan mutilasi diri yang berulang
·         Kelabilaan emosional yang ekstrem
·         Perasaan kosong yang kronis
·         Sangat sulit mengendalikan kemarahan.
d.      Gangguan Kepribadian Narsistik
Orang dengan gangguan kepribadian narsistik ditandai :
·         Pandangan yang dibesar-besarkan mengenai pentingnya diri sendiri
·         Terfokus pada kebersihan, kecerdasan dan kecantikan diri
·         Kebutuhan ekstrem untuk dipuja
·         Perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu
·         Kecenderungan memanfaatkan orang lain

·         Iri pada orang lain
·         Merasa diri penting dan haus akan perhatian dari orang lain
·         Selalu menuntut perhatian dan perlakuan istimewa dari orang lain
3.      Kelompok C
Terdiri dari gangguan kepribadian menghindar, dependen dan obsesif kompulsif. Orang dengan gangguaan ini sering tampak cemas dan ketakutan
a.       Gangguan Kepribadian Menghindar/ Avoid
Orang dengan gangguan kepribadian menghindar ditandai :
·         Menghindari kontak interpersonal karena takut pada kritikan
·         Keengganan untuk menjalin hubungan dengan orang lain kecuali dirinya pasti akan disukai
·         Membatasi diri dalam hubungan intim
·         Penuh kekhawatiran akan dikritik
·         Merasa tidak adekuat
·         Ketidakmampuan bergaul tersebut menjadi sumber kesusahan dan penyebab harga dirinya yang rendah.
·         Keengganan ekstrem untuk mencoba hal-hal baru
b.      Gangguan Kepribadian Dependen
Orang dengan gangguan kepribadian dependen ditandai :
·         Sulit mengambil keputusan tanpa saran dari orang lain
·         Membutuhkan orang lain untuk mengambil tujuan atas sebagian aspek kehidupannya yang utama
·         Sulit tidak menyetujui orang lain karena takut kehilangan dukungan mereka
·         Sulit melakukan segala sesuatu sendiri karena kurangnya percaya diri
·         Melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan sebagai suatu cara untuk mendapatkan persetujuan dan dukungan orang lain.
·         Merasa tidak berdaya bila sendirian karena kurangnya rasa percaya pada kemampuannya untuk menangani segala sesuatu tanpa intervensi dari orang lain

·         Berupaya untuk sesegera mungkin menjalin hubungan baru bila hubungan yang dimilikinya saat ini berakhir
·         Dipenuhi ketakutan bila harus mengurus diri sendiri

c.       Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif.
Orang dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif ditandai :
·         Terfokus secara berlebihan pada aturan dan detail sehingga poin utama suatu aktivitas terabaikan
·         Perfeksionis ekstrem hingga ke tingkat yang membuat berbagai proyek jarang terselesaikan
·         Menganut norma etik dan norma yang tinggi serta patuh secara berlebihan
·         Pengabdian berlebihan padaa pekerjaan hingga mengabaikaan kesenangan dan persahabatan
·         Tidak fleksibel
·         Sulit membuang benda-benda yang tidak berarti
·         Kikir dan keras kepala
·         Bila dipaksa bekerja tanpa pengawasan akan cemas, marah, benci, dan curiga terhadap atasannya.

E.     Resiko Gangguan Kepribadian
Individu yang tidak segera melakukan pengobatan, gangguan kepribadian dapat berdampak pada:
1.      Isolasi sosial, kehilangan sahabat-sahabat terdekat yang disebabkan ketidakmampuan untuk menjalani hubungan yang sehat, rasa malu yang disebabkan putusnya hubungan dengan masyarakat
2.      Bunuh diri, melukai diri sendiri sering terjadi pada individu yang mengalami gangguan kepribadian ambang dan cluster B
3.      Ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan
4.      Depresi, kecemasan dan gangguan makan. Untuk semua cluster mempunyai resiko berkembangnya problema psikologis lainnya
5.      Perilaku berbahaya yang dapat merusak diri sendiri. Penderita gangguan kepribadian ambang berpotensi melakukan tindakan berbahaya, tanpa perhitungan seperti terlibat pada seks bebas beresiko atau terlibat dalam perjudian. Pada gangguan kepribadian dependen beresiko mengalami pelecehan seksual, emosional, atau kekerasan fisik
6.      karena individu ini hanya mengutamakan pada bertahan hubungan semata (bergantung pada orang tersebut)
7.      Kekerasan atau bahkan pembunuhan. Perilaku agresif pada gangguan kepribadian paranoid dan antisosial
8.      Tindakan kriminal. Gangguan kepribadian antisosial mempunyai resiko lebih besar melakukan tindakan kriminal. Hal ini dapat mengakibatkan diri bersangkutan dipenjara
9.      Gangguan simtom yang ada dapat menjadi lebih buruk dikemudian hari bila tidak mendapatkan perawatan secara baik

F.     Treatment bagi Gangguan Kepribadian
Treatment untuk gangguan kepribadian merupakan kombinasi dari pengobatan dan psikoterapi.
1.      Kelompok A
a.       Paranoid
Psikoterapi – Pasien paranoid tidak bekerja baik dalam psikoterapi kelompok, karena itu ahli terapi harus berhadapan langsung dalam menghadapi pasien dan harus diingat bahwa kejujuran merupakan halyang sangat penting bagi pasien.
 Farmakoterapi – Farmakoterapi berguna dalam menghadapi agitasi dan kecemasan. Pada sebagian besar kasus obat anti anxietas seperti diazepam dapat digunakan.
b.      Skizoid
Psikoterapi – Dalam lingkungan terapi kelompok, pasien gangguan kepribadiaan schizoid mungkin diam untuk jangka waktu yang lama, namun suatu waktu, mereka akan ikut terlibat.
Pasien harus dilindungi dari serangan agresif anggota kelompok lain mengingat kecenderungan mereka akan ketenangan. Dengan berjalaannya waktu, anggota kelompok menjadi penting bagi pasien schizoid dan dapaat memberikan kontak sosial.
 Farmakoterapi – Dengan antipsikotik dosis kecil, anti depresan dan psikostimulan dapat digunakan dan efektif pada beberapa pasien.
c.       Skizotipal
Psikoterapi – Pikiran yang aneh dan ganjil pada pasien gangguan kepribadian skizotipal harus ditangani dengan berhati-hati. Beberapa pasien terlibat dalam pemujaan, praktek religius yang aneh. Ahli terapi tidak boleh menertawakan aktivitas tersebut atau mengadili kepercayaan atau aktivitas mereka.
Farmakoterapi – Medikasi antipsikotik mungkin berguna dalaam menghadapi gagasan mengenai diri sendiri, wahaam dan gejala lain dari gangguan dan dapaat digunakan bersama-sama psikoterapi. Penggunaan haloperidol dilaporkan memberikan hasil positif pada.
2.      Kelompok B
a.       Antisosial
Psikoterapi – Jika pasien merasa berada diantara teman-teman sebayanya, tidak adanya motivasi mereka untuk berubah bisa menghilang, kemungkinan karena hal itulah kelompok yang menolong diri sendiri akan lebih berguna dibandingkan di penjara dalam menghilangkan gangguan.
Tetapi ahli terapi harus menemukan suatu cara untuk menghadapi perilaku merusak pada pasien. Dan untuk mengatasi rasa takut pasien terhadap keintiman, ahli terapi harus mengagalkan usaha pasien untuk melarikan diri dari perjumpaan dengan orang lain.
Farmakoterapi – Farmakoterapi digunakan untuk menghadaapi gejala yang diperkirakan akan timbul seperti kecemasan, penyerangan dan depresi.
b.      Ambang
Psikoterapi – Pendekatan berorientasi realitas lebih efektif dibandingkan interpretasi bawah sadar secaraa mendalam. Terapi perilaku digunakan pada pasiem gangguan kepribadian ambang untuk mengendalikan impuls dan ledakan kemarahan dan untuk menurunkan kepekaan terhadaap kritik dan penolakan.
Latihan keterampilan social, khususnya dengan video tape, membantu pasien untuk melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain, hal ini untuk meningkatkan perilaku interpersonal mereka.
 Farmakoterapi – Antipsikotik dapat digunakan untuk mengendalikan kemarahan, permusuhan dan episode psikotik yang singkat. Antidepresan memperrbaiki mood yang terdepresi yang sering ditemukan pada pasien.
c.       Gangguan Kepribadian Historinic
Psikoterapi – Pasien dengan gaangguan kepribadian histrionic seringkali tidak menyadari perasaan mereeka yang sesungguhnya.
Psikoterapi berorientasi psikoanaliasis, baik dalam kelompok atau individual.
 Farmakoterapi – Farmaakoterapi dapaat ditaambaahkaan jikaa gejala adalah menjadi sasarannya, seperti penggunaan aantidepresan untuk depresi dan keluhan somatic, obat anti anxietas untuk kecemasan dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi.
d.      Gangguan Kepribadian Narsistik
Psikoterapi – Mengobati gangguan kepribadiaan naarsistik sukaar karena pasien harus meninggalkaan narsismenya jika ingin mendapatkan kemajuan Farmakoterapi – Lithium (eskalith) digunakaan pada pasien yang memiliki pergeseran mood sebagai bagian dari gambaran klinis. Dan karena rentan terhadap depresi, maka antidepresan juga dapat digunakan
3.      Kelompok 3
a.       Menghindar/ Avoid
Psikoterapi – Ahli terapi mendorong pasien untuk ke luar ke dunia untuk melakukan apa yang dirasakan mereka memiliki resiko tinggi penghinaan, penolakan dan kegagalan.
Tetapi ahli terapi harus berhati-hati saat memberikan tugas untuk berlatih keterampilan social yang baru di luar terapi, karena kegagalan dapat memperberat harga diri pasien yang telah buruk.
Tetapi kelompok dapat membantu pasien mengerti efek kepekaan mereka terhadap penolakan pada diri mereka sendiri dan orang lain. Melatih ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang dapat mengajarkan pasien untuk mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan untuk meningkatkan harga diri mereka.
Farmakoterapi - Beberapa pasien tertolong oleh penghambat beta, seperti atenolol (Tenormin), untuk mengatasi hiperaktivitas sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien dengan gangguan kepribadian menghindar, khususnya jika mereka menghadapi situasi yang menakutkan.


b.      Dependen
Psikoterapi – Terapi yang digunakan yaitu melalui proses kognitif behavioral, dengan menciptakan kemandirian pada pasien, melatih ketegasan dan menumbuhkan rasa percaya diri.
 Farmakoterapi – Benzodiazepine dan obat serotonergik dapat berguna.
c.       Obsesif Kompulsif
Psikoterapi – Pasien gangguan kepribadian obsesif kompulsif seringkali tahu  bahwa mereka sakit dan mencari pengobatan ataas kemauaan sendiri. Asosiasi bebas dan terapi yang tidak terlalu mengarahkan, sangat dihargai oleh pasien gangguan ini.
Farmakoterapi – Clonazepam (klonopin) adalah suatu benzodiazepine dengan anti konvulsan, pemakaian obat ini untuk menurunkan gejala pada pasien dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif parah.



















                                                                   BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN KEPRIBADIAN

1. Pengkajian
A. Faktor Predisposisi
  • Tumbuh kembang : g3 dlm p’kembangan persepsi, berpikir dan hub. dgn org lain persepsi, berpikir dan hub. dgn org lain
  • Hub. Dlm keluarga : Pola asuh dan interaksi dlm klg yg tdk m’dukung proses tumbang
B. Faktor presipitasi
  • Perpisahan/ kehilangan : org berarti dlm waktu Perpisahan/ kehilangan (perceraian, kematian atau di sementara/ lama atau dirawat di RS)
  • Penyakit kronis dan kecacatan : cenderung isolasi diri shg g3 pola hubungan isolasi
  •  Sosial budaya : perubahan status sosek ( perusahaan bangkrut tau tinggal di tempat baru )
3. Perilaku dan mekanisme koping Perilaku dan mekanisme koping
  • Skizoid                                            à Isolasi
  • Histerionik                                     à Disosiasi,m’serang,m’ingkari
  • Narsistik                                         à Manipulasi, intelektualisasi
  • Boderline                                       à Marah, krisis
  • Menarik diri                                   à Isolasi Isolasi
  • Dependen                                      à Ketergantungan


4. Diagnosa Keperawatan
1.Kerusakan interaksi sosial : isolasi sosial
2. Gangguan alam perasaan : depresi
3. G3 hub. dgn org lain : dependent
4. G3 hub. dgn org lain : manipulatif
5. Isolasi sosial
6. G3 konsep diri : harga diri rendah
7. Resti amuk
8. Resti merusak diri
5. Perencanaan
Tujuan umum :
1. Mencegah terjadinya gangguan jiwa berat
2. M’bantu m’kembangkan kemampuan hubungan sosial
3. M’dorong partisipasi keluarga dlm merawat klien
Tindakan Keperawatan
1. Histerik
  • Bekerjasama dgn klien dan keluarga
  • Terapi perilaku u/ m’bantu p’capaian tumbang
  • Bantu ortu untuk mendisiplinkan anak
  • Bantu anak beradapatasi dlm kelompok
  • Respon perawat tk dipegaruhi gender


2. Kepribadian narsistik
  • Bantu klien m’kembangkan harga diri yg kuat
  • Fasilitasi ledakan rasa marah dan b’musuhan
  • Taggapi setiap perilaku klien
  • Libatkan dalam terapi kelompok
3. Kepribadian Tergantung
  • Rancang batasan usia yg sesuai dan konsisten
  • Libatkan keluarga dan orang terdekat
  • Hindari perilaku balas dendam dan tekankan tanggung jawab thd perilaku, pikiran dan perasaan
  • Beri kesempatan untuk m’kontrol kehidupan perilakunya
  • Tunjukkan penerimaan/ pengakuan thd keputusan klien
4. Kepribadian Kompulsif
  • Ekspresif psikoterapi
  • Diskusikan efek stress dan beri saran
  • Cegah ketidak jelasan
  • Beri penekanan pada kebutuhan dengancontoh konkrit
  • Strategi perilaku dan kognitif sangat berguna
  • Terapi kelompok untuk org tua dan keluarga
5.  Kepribadian Menghindar
  • Bina hubungan saling percaya
  • Bantu klien menerima kritik orang lain
  • Bantu klien mengkritik diri sendiri
  • Bantu klien agar keluar dari lingkaran kritik dengan mengkonfrontasi kesepiannya
  • Bantu klien untuk sosialisasi dan mendapat teman
  • Beri reinforcement akan kemampuan yg telah dimiliki klien
6.      Kepribadian Skizoid
  • Lakukan kontrak P – K
  • Tingkatkan sosialisasi
  • Hindari isolasi dan perawatan institusional
  • Libatkan dl terapi okupasi dan terapi kelompok















                                                                   BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Menurut Maramis (1999) kepribadian adalah keseluruhan pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus menerus terhadap hidupnya.
Gangguan kepribadian menurut Rusdi Malim (1998) yang merujuk pada PPGDJ-III (Pedoman Penggolongan diagnose Gangguan Jiwa III) adalah paranoid, schizoid, emosional tak stabil tipe implusif dan ambang, historic, anankastik, cemas (menghindar), dependen, khas lainnya yang tidak tergolongkan.
Gangguan Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi.
Sedangkan gangguan kepribadian menurut Kaplan dan Saddock adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang.
 Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subyektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.
Penderita gangguan kepribadian mempunyai karakteristik perilaku yang kaku sulit menyesuaikan diri sehingga orang lain seperti bersikap impulsif, lekas marah, banyak permintaan, ketakutan, permusuhan, manipulatif, atau bahkan bertindak kasar.









DAFTAR PUSTAKA

·         Maslim rudi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III: Jakarta
·         Sunaryo. Psikologis untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
·         http://one.indoskripsi.com/node/9597 9:28

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar